SEKILAS INFO
: - Rabu, 27-10-2021
  • 4 tahun yang lalu / Kami Menyambut baik terbitnya Website SMAN 1 MERAWANG, dengan harapan dipublikasinya website ini dapat meningkatkan layanan pendidikan kepada siswa, orangtua, dan masyarakat pada umumnya. Dengan fasilitas ini Siswa dapat mengakses berbagai informasi pembelajaran dan informasi akademik. Sebaliknya orangtua juga dapat mengakses informasi tentang kegiatan akademik dan non akademik putra – puterinya di sekolah ini.
Geliat Kerajinan Tudung Saji di Tengah Pandemi

(Sumber: Pribadi)

Jawaharlal Nehru mengatakan bahwa budaya akan memperluas pikiran dan semangat kita. Hal ini berlaku pada diri Ibu Rusina, semangat membuat kerajinan tudung saji tidak pernah padam demi melestarikan budaya di daerahnya.

Ibu Rusina, perempuan yang berumur 40 tahun kelahiran Kota Pangkalpinang merupakan seorang pembuat kerajinan tudung saji. Jari-jemarinya yang lentik dengan cekatan membuat kerajinan tudung saji sedangkan matanya fokus pada saat menjahit daun-daun yang sudah di potong sesuai ukuran. Bersama ketiga pegawai yang masih bekerja di usaha kerajinan tudung sajinya, mereka mulai bekerja dari pukul 10.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB. Selama pandemi, kegiatan membuat tudung saji tersebut hanya dilakukan sebanyak tiga kali dalam seminggu di sebuah ruangan yang berukuran 2,5 meter × 6 meter. Namun, tak jarang mereka membuat tudung saji di teras rumah Ibu Rusina.

Ibu Rusina memulai usaha pembuatan kerajinan tudung saji pada tahun 2018. Bermodalkan uang sebesar Rp3.000.000,-, ia membangun ruangan dan membeli bahan-bahan pembuatan tudung saji. Usaha kerajinan tudung saji Ibu Rusina terdapat di Kelurahan Plaben, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Dari usaha kerajinan tudung sajinya, pertama kali Ibu Rusina mendapatkan keuntungan sebesar Rp4.000.000,-.


Melestarikan Tradisi
Tudung saji bermanfaat sebagai penutup makanan yang seringkali digunakan pada acara adat istiadat nganggung. Tradisi nganggung berlangsung merata di setiap kabupaten atau kotamadya di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Tetapi bagi masyarakat Kabupaten Bangka, nganggung dikenal juga dengan istilah Sepintu Sedulang (satu pintu satu dulang), maksudnya setiap rumah (keluarga) membawa satu dulang untuk kegiatan nganggung tersebut. Tradisi ini merupakan warisan nenek moyang yang mencerminkan suatu kehidupan sosial masyarakat berdasarkan gotong-royong. Di mana setiap bubung rumah (keluarga) melakukan kegiatan tersebut untuk dibawa ke masjid, surau atau tempat berkumpulnya warga kampung.

Dalam acara nganggung, setiap kepala keluarga membawa dulang yaitu sejenis nampan bulat sebesar tampah yang terbuat dari aluminium, seng dan ada juga yang terbuat dari kuningan. Untuk yang terakhir ini sekarang sudah agak langka, tapi sebagian masyarakat Bangka masih mempunyai dulang kuningan ini.

Di dalam dulang tersebut tertata aneka jenis makanan sesuai dengan kesepakatan apa yang harus dibawa, namun bisa juga berdasarkan kemampuan keluarga tersebut. Kalau nganggung kue, yang dibawa kue; nganggung nasi, isi dulang nasi dan lauk pauk, bisa juga nganggung buah-buahan, nganggung ketupat biasanya pada saat lebaran.

Dulang ini ditutup dengan tudung saji. Cara membawa dulang tersebut adalah dengan meletakkannya di atas telapak tangan dan mengangkatnya setinggi bahu. Ada pula dengan cara menjunjung di atas kepala. Kemudian dulang tersebut dibawa ke masjid, atau tempat acara yang sudah ditetapkan, untuk dihidangkan dan dinikmati bersama.

Adapun nganggung merupakan suatu kegiatan yang dilakukan masyarakat dalam rangka memperingati hari besar agama Islam, menyambut tamu kehormatan, acara selamatan orang meninggal, acara pernikahan atau acara apapun yang melibatkan orang banyak.

Olehkarena bermanfaatnya tudung saji dalam tradisi nganggung, Ibu Rusina terus bertahan membuat kerajinan tudung saji, “Motivasi saya membuat kerajinan tudung saji adalah untuk melestarikan budaya. Saya ingin menginspirasi anak-anak muda betapa pentingnya mengembangkan kemampuan dalam pembuatan kerajinan tudung saji,” ungkap Ibu Rusina.

Meskipun selama pandemi Covid-19 tradisi nganggung ditiadakan agar tidak meluasnya penyebaran virus Covid-19 dan membuat Bangka Belitung keluar dari zona merah, Ibu Rusina tetap bertahan membuat kerajinan tudung sajinya, “Iya, pesanan tudung saji menurun drastis sejak pandemi. Tapi alhamdulillah masih ada juga yang membeli tudung saji,” seloroh Rusina sambil tersenyum.


Pendapatan menurun
Tudung saji terbuat dari bahan dasar daun Mengkuang, sejenis tumbuhan dari keluarga Pandanaceae yaitu sama dengan keluarga tanaman pandan. Untuk membuat tudung saji, daun-daun Mengkuang dibersihkan kemudian dikeringkan. Setelah kering dan berwarna kecokelatan, daun diukur sesuai dengan ukuran lalu digunting. Daun-daun tersebut kemudian dijahit sesuai dengan polanya. Ketika tudung saji selesai di jahit, langkah selanjutnya kita akan menjahit lingkar tudung memakai batang kabung yang sudah di ukur. Lalu tudung saji itu dicat warna-warni. Biasanya cat tudung saji didominasi warna merah, dengan bentuk lingkaran di atasnya. Bentuk lingkaran tersebut dicat warna kuning, hijau dan merah dan setelah di cat tudung saji tersebut dijemur sampai catnya kering.

“Semenjak pandemi Covid-19 melanda Indonesia dan Kepulauan Bangka Belitung pada Senin, 16 Maret 2020, penghasilan dari kerajinan tudung saji menjadi tidak menentu,” ungkap Ibu Rusina sambil membuat kerajinan tudung sajinya.

“Sebelum adanya corona, penghasilan dari pembuatan kerajinan tudung saji berkisar antara Rp4.000.000,- sampai dengan Rp4.500.000,- perbulan,” lanjut perempuan yang bermata sipit, berkulit putih dan berhidung mancung tersebut.

Meskipun penghasilan yang ia dapatkan dari membuat kerajinan tudung saji tidak terlalu banyak. Namun Ibu Rusina mampu menggaji 7 orang karyawan sebesar Rp400.000,- sampai dengan Rp450.000,- untuk satu orang karyawan setiap bulannya.

Bagi Ibu Rusina, tidak apa-apa mendapatkan keuntungan yang sedikit, asalkan dapat membantu banyak orang, “Gaji seperti itu tidak merugikan saya. Malah kadang-kadang saya banyak mendapatkan untung.”

Perempuan itu hanya sedih, harus merumahkan beberapa karyawannya karena sejak pandemi pesanan tudung saji tidak seramai dulu. “Sebelum ada pandemi Covid-19, yang bekerja disini ada 7 orang. Setelah adanya Covid-19 masih tersisa 3 orang. Pegawai yang masih bertahan bekerja disini ya teman dekat ibu sendiri,” tutur Ibu Rusina.

Ibu Rusina mengatakan jika kini mereka hanya memproduksi sekitar 15 sampai 20 tudung saji berdiameter 45 cm setiap bulannya. Satu tudung saji dijual dengan harga Rp80.000,-. Perempuan itu memasarkan kerajinan tudung sajinya melalui status whatsApp dan baru membuat kerajinan tudung saji jika ada yang memesan. Di tengah kesulitan yang mendera usaha kerajinan tudung sajinya, tak sedikitpun ada keinginan dalam diri Ibu Rusina untuk menutup usahanya.

“Jika kami tidak membuat kerajinan tudung saji maka siapa yang akan meneruskan pembuatan kerajinan tudung saji ini,” ujar Ibu Rusina khawatir. Ia terus bertahan membuat kerajinan tudung saji demi melestarikan tradisi meskipun harus tertatih-tatih.

Selama pandemi, usaha kerajinan tudung saji milik Ibu Rusina mendapatkan bantuan dari UMKM seperti gunting, las, kompresor, pisau, cater, alat tenun, benang, jarum, lem, cat, tiner, kuas dan lain-lainnya.

“Saya juga mendapatkan bantuan dari satgas Covid-19 berupa alat bahan-bahan pangan,” ungkapnya penuh rasa syukur.

Ibu Rusina berharap pandemi Covid-19 segera berakhir sehingga semua orang bisa beraktivitas seperti dulu lagi dan kerajinan tudung sajinya terus bertahan. Perempuan itu juga mengatakan jika ada yang ingin mempelajari kerajinan tudung saji, ia dengan senang hati mengajar dan membimbingnya. “Ilmu yang saya dapatkan dari PKK Baturusa itu akan saya teruskan kepada siapa saja yang ingin melestarikan kerajinan tudung saji,” ungkap perempuan itu bersemangat.

Ibu Rusina telah menunjukkan bahwa selama pandemi Covid-19 bukanlah akhir dari segalanya. Ia mengatakan tidak putus asa dengan kondisi penghasilan yang tidak menentu dan berkurangnya pegawai yang bekerja di usaha kerajinan tudung sajinya. Walaupun dengan kondisi pandemi Covid-19 Ibu Rusina tetap semangat dalam membuat kerajinan tudung saji demi melestarikan kebudayaan Kepulauan Bangka Belitung. (Nadini Pratiwi)

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments