SEKILAS INFO
: - Jumat, 24-05-2024
  • Kami Menyambut baik terbitnya Website SMAN 1 MERAWANG, dengan harapan dipublikasinya website ini dapat meningkatkan layanan pendidikan kepada siswa, orangtua, dan masyarakat pada umumnya. Dengan fasilitas ini Siswa dapat mengakses berbagai informasi pembelajaran dan informasi akademik. Sebaliknya orangtua juga dapat mengakses informasi tentang kegiatan akademik dan non akademik putra – puterinya di sekolah ini.
Meningkatkan Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita Melalui Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Pada Materi “Nilai Optimum Dari Fungsi Tujuan Menggunakan Metode Uji Titik Pojok” Pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Merawang Tahun 2022

Penulis: Dedi Lealdi
Materi pembelajaran “Nilai Optimum dari Fungsi Tujuan Menggunakan Metode Uji Titik Pojok” berisikan permasalahan nyata yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Dalam memecahkan suatu permasalahan matematika khususnya masalah dalam materi pokok program linear ini membutuhkan keterampilan memahami masalah, melakukan analisis, dan perhitungan.

Rendahnya kemampuan peserta didik kelas XI di SMA Negeri 1 Merawang dalam menyelesaikan soal cerita menjadi latar belakang dari terlaksananya praktik pembelajaran ini. Rendahnya literasi siswa ini terlihat dari:
1. Rendahnya kemampuan peserta didik dalam menganalisis masalah, dan
2. Rendahnya kemampuan peserta didik dalam merancang rencana penyelesaian masalah

Sebagian besar peserta didik sudah merasa kesulitan terlebih dahulu manakala menemukan soal cerita. Peserta didik menganggap bahwa soal cerita adalah soal yang panjang dan membingungkan. Mereka bingung apa langkah yang harus dilakukan dalam menjawab soal tersebut.
Menurut Rusmining dkk (2014), kemampuan membuat model matematika, memberikan alasan dan beragumen serta menemukan strategi pemecahan masalah yang rendah dikarenakan guru lebih banyak memberikan penjelasan materi dan minim sekali siswa membangun pengetahuannya.
Sedangkan Menurut Diyarko dan Waluyo (2016), rendahnya kemampuan literasi matematika siswa disebabkan oleh kurangnya pembiasaan dari guru untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan soal literasi matematika sehingga membuat peserta didik kesulitan dalam menyelesaikan soal literasi matematika.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka alternatif solusi yang digunakan untuk menyelesaikan masalah rendahnya kemampuan literasi matematika peserta didik adalah dengan menerapkan model Problem Based Learning (PBL). Dengan menggunakan model PBL, siswa akan dilatih untuk berperan aktif dalam kelompok dan melatih proses berpikir kritis mereka untuk memecahkan masalah yang diberikan. Sehingga dengan sering dilatih berpikir secara kritis, siswa akan mudah untuk menyelesaikan masalah-masalah yang serupa.

Praktik ini penting untuk dibagikan, karena:
1. Praktik ini diharapkan dapat menjadi solusi bagi guru yang mengalami permasalahan yang sama dengan yang penulis hadapi.
2. Praktik pembelajaran ini selain dapat menjadi motivasi bagi penulis juga diharapkan dapat menjadi referensi bagi rekan guru lain dalam mendesain pembelajaran yang tepat sesuai dengan materi pembelajaran.
Dalam praktik ini penulis berperan sebagai guru yang bertanggung jawab dalam mendesain pembelajaran yang inovatif, kreatif dan menyenangkan dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai, serta dapat meningkatkan kemampuan literasi siswa dan hasil belajar siswa. Pada praktik ini penulis memilih menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) berbantuan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) dengan pendekatan saintifik dan TPACK pada materi “Nilai Optimum dari Fungsi Tujuan Menggunakan Metode Uji Titik Pojok”.

Tantangan
Untuk meningkatkan kemampuan menyelesaikan soal cerita oleh peserta didik khususnya dalam pembelajaran materi “Nilai Optimum dari Fungsi Tujuan Menggunakan Metode Uji Titik Pojok”, penulis mendapati beberapa tantangan yang harus dihadapi berdasarkan hasil dari refleksi diri, mencari kajian teori, melakukan wawancara dengan pengawas, kepala sekolah, serta rekan sejawat yang sudah senior dan pernah mengalami kasus yang sama. Tantangan ini diantaranya adalah:
1. Kurangnya pembiasaan dari guru untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan soal literasi matematika.
2. Guru lebih banyak memberikan penjelasan materi dan minim sekali membangun pengetahuan siswa.
3. Peserta didik mudah menyerah dan tidak ingin mencoba menyelesaikan masalah yang diberikan.
4. Sumber belajar siswa yang kurang bervariasi.
5. Siswa tidak mengetahui manfaat dari materi yang sedang dipelajari.

Dalam menghadapi tantangan tersebut guru memiliki andil yang besar dalam tercapainya tujuan yang hendak dicapai.
Terlaksananya praktik ini tidak terlepas dari bantuan banyak pihak, diantaranya adalah pengawas sekolah yang memberikan solusi, kepala sekolah yang mendukung dan memfasilitasi kegiatan yang dilakukan guru, rekan sejawat yang memberikan masukan dalam perbaikan kegiatan pembelajaran, orang tua siswa yang mendukung dan memantau proses belajar anaknya di rumah, dan siswa itu sendiri yang menjadi taget dalam upaya meningkatkan kemampunan menyelesaikan soal cerita dalam pelajaran matematika.

Kegiatan praktik ini juga dapat terlaksana tidak terlepas dari bantuan dosen pembimbing, guru pamong, dan rekan PPG Daljab Kategori 1 Gelombang 2 Tahun 2022 Pendidikan Matematika UNS. Melalui kegiatan diskusi di google meet, LMS ataupun group whatsapp, berbagi masukan dan pengalaman.

Masing-masing pihak mempunyai peranan yang sangat penting, dimulai dari merancang perangkat pembelajaran, mengembangkan media pembelajaran, melaksanakan hingga melakukan refleksi terhadap praktik pembelajaran yang telah dilakukan.

Aksi

Banyak cara untuk melatih kemampuan literasi matematika siswa dalam menyelesaikan soal cerita. Salah satunya dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Menurut Herzon dan Utomo. 2018, model pembelajaran Probelm Based Learning (PBL) terbukti signifikan dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis peserta didik. Hal ini karena sintaks-sintaks PBL dapat melatih anak untuk melakukan proses berpikir tingkat tinggi, salah satunya berpikir kritis. Sintaks PBL yang dijalankan sesuai dengan langkah-langkah yang benar akan menjadikan pembelajaran menjadi efektif dan efisien. Guru dapat menggunakan PBL untuk membekali peserta didik berpikir tingkat tinggi. Guru harus menjalankan sintaks PBL secara benar agar tujuan pembelajaran tercapai.

Selain model pembelajaran yang tepat, penggunaan media pembelajaran yang tepat juga akan menjadi solusi untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita. Lembar kerja peserta didik (LKPD) memiliki peran dalam proses pembelajaran karena dapat meningkatkan aktivitas peserta didik dalam belajar. Penggunaan LKPD akan melatih peserta didik berpikir tingkat tinggi, dan membantu guru untuk mengarahkan peserta didiknya menemukan konsep-konsep melalui aktivitas bersama kelompok.

Menurut Saraswati, dkk. 2021, kunci pemecahan masalah yang baik adalah fokus pada masalah, menggambarkan bentuk masalah, merencanakan solusi dan melaksanakan rencana. Salah satu pembelajaran yang mengakomodasi itu adalah PBL. Dengan mengintegrasikan LKPD berorientasi HOTS, maka kemampuan pemecahan masalah siswa akan meningkat.

Berdasarkan hal tersebut, dilakukanlah praktik pembelajaran pada materi “Nilai Optimum dari Fungsi Tujuan Menggunakan Metode Uji Titik Pojok” dalam kelas XI MIPA 3 di SMA Negeri 1 Merawang dengan proses pembelajaran yang dilakukan sebagai berikut:
1. Kegiatan Pendahuluan
Pada kegiatan pendahuluan guru memberikan apersepsi, memotivasi peserta didik untuk giat belajar, dan mengenalkan manfaat dalam mempelajari materi “Nilai Optimum dari Fungsi Tujuan Menggunakan Metode Uji Titik Pojok”.

2. Kegiatan Inti
a. Fase 1 : Orientasi peserta didik pada masalah
Peserta didik menyimak permasalahan dalam kegiatan sehari-hari yang disampaikan oleh guru yang berkaitan dengan materi “Nilai Optimum dari Fungsi Tujuan Menggunakan Metode Uji Titik Pojok”. Setelah itu guru memberikan penguatan dengan memberikan penjelasan mengenai permasalahan yang disajikan. Dalam hal ini guru memastikan bahwa peserta didik telah memahami masalah yang akan mereka selesaikan.

b. Fase 2 : Mengorganisasi peserta didik untuk belajar
Peserta didik diarahkan untuk membentuk kelompok yang terdiri dari 4-5 anggota. Dalam kelompoknya peserta didik diberikan lembar kerja peserta didik (LKPD)
yang berisi permasalahan yang berkaitan dengan materi “Nilai Optimum dari Fungsi Tujuan Menggunakan Metode Uji Titik Pojok”. Setelah itu peserta didik secara bersama-sama dengan anggota kelompoknya berdiskusi untuk merencanakan pemecahan masalah dari permasalahan yang diberikan dalam LPKD.

c. Fase 3 : Membimbing penyelidikan individu dan kelompok
Peserta didik melakukan diskusi bersama kelompoknya masing-masing untuk mengumpulkan informasi dalam menemukan langkah-langkah menyusun model matematika dari permasalahan kontektual yang berkaitan dengan materi “Nilai Optimum dari Fungsi Tujuan Menggunakan Metode Uji Titik Pojok” yang ada di LKPD. Sedangkan guru membimbing peserta didik dalam mengerjakan LKPD.

d. Fase 4 : Mengembangkan dan menyajikan hasil
Secara berkelompok, siswa merancang dan menyiapkan laporan hasil diskusi secara rapi, sistematis, dan kreatif. Perwakilan kelompok menyajikan hasil diskusi mengenai permasalahan yang berkaitan dengan materi “Nilai Optimum dari Fungsi Tujuan Menggunakan Metode Uji Titik Pojok” yang ada pada LKPD. Sedangkan kelompok yang tidak presentasi memberikan tanggapan, mengajukan pertanyaan, ataupun saran dalam rangka penyempurnaan pengerjaan LKPD.

e. Fase 5 : Menganalisis dan mengevaluasi pemecahan masalah
Guru memberikan penguatan terkait hal-hal yang masih diragukan sehingga informasi menjadi benar dan tidak terjadi kesalahpahaman terhadap materi.

3. Kegiatan Penutup
Peserta didik mengerjakan kuis. Setelah itu secara bersama-sama dengan dibantu oleh guru menyimpulkan kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Kemudian melakukan kegiatan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilakukan.

Praktik pembelajaran ini memanfaatkan beberapa sumber daya diantaranya:
1. Media
Praktik ini menggunakan media powerpoint, Video Youtube (https://www.youtube.com/watch? v=-QnsA_DiY3M), Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) dan Software Geogebra (https://www.geogebra.org/graphing)

2. Alat
Laptop, HP, LCD, Proyektor, Papan tulis, Spidol, Penggaris, Penghapus.

3. Sumber Belajar
Sumber belajar yang digunakan dalam praktik ini adalah:
➢ Buku Paket Matematika untuk SMA/MA/SMK/ MAK Kelas XI. Penerbit: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2017.
Link: https://repositori.kemdikbud.go.id/5235/1/b_2a3411db-6de8-459d-8207366b7c2acc 7e.pdf
➢ Buku Belajar Praktis Matematika Mata Pelajaran Wajib SMA/ MA Kelas XI Semester 1. Penerbit: Vina Pakarindo
➢ Bahan Ajar (Flip PDF Online): https://www.flipbookpdf.net/web/site/85601c6658f43e30e 538aec32b8dcfc3fd625644202301.pdf.html

Refleksi Hasil dan Dampak

Berdasarkan langkah aksi yang telah dilakukan terdapat beberapa dampak yang diperoleh yaitu:
1. Menambah wawasan guru dalam penyusunan perangkat pembelajaran dengan model pembelajaran Problem Based Learning.
2. Model Pembelajaran Problem Based Learning membuat siswa lebih aktif berdiskusi, antusias dan aktif dalam pembelajaran. Peserta didik juga semakin terlatih dalam diskusi dan mengkomunikasikan ide serta gagasan pada tahap presentasi kelompok.
3. Peserta didik aktif dalam diskusi sehingga menemukan sendiri solusi dari permasalahan yang disajikan.
4. Hasil penilaian LKPD dari 6 kelompok didapatkan hasil bahwa seluruh kelompok dapat menyelesaikan seluruh permasalahan yang diberikan di LKPD. Hanya saja terdapat 1 kelompok yang melakukan kekeliruan saat menggambar grafik. Hal ini disebabkan karena ketidaktelitian yang mereka lakukan.
5. Respon rekan guru sebagai observer menyampaikan bahwa tahapan dalam praktik pembelajaran menggunakan model Problem Based Learning ini terlaksana dengan baik dan efektif serta membuat peserta didik terlibat aktif selama pembelajaran berlangsung. Namun terdapat 1 tahapan pembelajaran yang belum terlaksana, yaitu penggunaan aplikasi geogebra dalam membantu mengonfirmasi hasil pengerjaan LKPD pada kegiatan diskusi kelompok (Lampiran 4).
6. Berdasarkan hasil penilaian pengetahuan dari 30 peserta didik pada kelas XI MIPA 3 (Lampiran 1), didapatkan hasil 25 peserta didik (83%) mendapatkan nilai tuntas (di atas 70) dan 5 peserta didik (17%) mendapatkan nilai belum tuntas (di bawah 70). Penyebab dari ketidaktuntasan ini adalah karena mereka masih keliru dalam membuat model matematika dari permasalahan program linear yang diberikan.
7. Berdasarkan hasil penilaian terhadap kemampuan literasi siswa terhadap soal matematika berbentuk cerita yang diambil dari hasil pengerjaan kuis (Lampiran 3), didapatkan hasil 4 siswa (13%) memiliki literasi matematika yang baik, 21 siswa (70%) memiliki literasi matematika yang cukup baik, dan terdapat 5 siswa (17%) memiliki literasi matematika yang kurang baik. Hasil ini berdasarkan indikator kemampuan literasi matematis siswa (Saputri, dkk (2021)).

Namun dalam pelaksanaan praktik ini terdapat beberapa kekurangan yang penulis alami, diantaranya adalah:
1. Tayangan ppt masih terlihat belum jelas pada video praktik
2. Pencahayaan yang masih belum stabil, terdapat bagian yang pencahayaannya terlihat gelap
3. Belum terlihatnya penggunaan aplikasi geogebra saat pelaksanaan pembelajaran.
Berdasarkan kekurangan yang dialami pada pelaksaan praktik ini, maka upaya yang akan dilakukan agar didapatkan hasil yang lebih baik pada praktik selanjutnya adalah sebagai berikut:
1. Melakukan perbaikan terkait teknik perekaman video pembelajaran, seperti setting ruangan dan pencahayaan sehingga akan didapatkan sebuah rekaman video yang baik.
2. Mendesain tayangan PPT dengan lebih baik lagi sehingga akan tampak jelas dalam rekaman video praktik.
3. Mempersiapkan lebih matang terkait kegiatan pembelajaran, seperti melatih siswa terlebih dahulu dalam menggunakan aplikasi geogebra.

DAFTAR PUSTAKA
Diyarko dan Waluyo. 2016. Analisis Kemampuan Literasi Matematika Ditinjau Dari Metakognisi Dalam Pembelajaran Inkuiri Berbantuan Lembar Kerja Mandiri Mailing Merge. Unnes Journal of Mathematics Education Research. Vol 5 No 1 (2016): June 2016.

Herzon, H.H., Budijanto, dan Utomo, D.H. 2018. Pengaruh Problem-Based Learning (PBL) terhadap Keterampilan Berpikir Kritis. Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan. Vol: 3 No: 1 Bulan Januari Tahun 2018, Hal: 42—46.

Rusmining, Waluya, S.B., dan Sugianto. 2014. Analysis of Mathematics Literacy, Learning Constructivism and Character Education (Case Studies on XI Class of SMK Roudlotus Saidiyyah Semarang, Indonesia). International Journal of Education and Research. Vol. 2 No. 8: August 2014.

Saputri, dkk. 2021. Analisis Kemampuan Literasi Matematis Siswa Dalam Pembelajaran Daring Di Masa Pandemi Covid-19. Vol 03 No 01, Juni 2021 p 15-26. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Terpadu (JPPT)

Saraswati, Dewi, Distri, I. W., dan Ambarita, Alben. 2021. Pengembangan Lkpd Berbasis Pbl Berorientasi Hots Untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 2 No. 9 September 2021.

TINGGALKAN KOMENTAR