SEKILAS INFO
: - Senin, 14-06-2021
  • 3 tahun yang lalu / Kami Menyambut baik terbitnya Website SMAN 1 MERAWANG, dengan harapan dipublikasinya website ini dapat meningkatkan layanan pendidikan kepada siswa, orangtua, dan masyarakat pada umumnya. Dengan fasilitas ini Siswa dapat mengakses berbagai informasi pembelajaran dan informasi akademik. Sebaliknya orangtua juga dapat mengakses informasi tentang kegiatan akademik dan non akademik putra – puterinya di sekolah ini.
Terinsipirasi dari Sang kakak, Anak Petani ini Juga Ingin Kuliah
Marini, begitu dia biasa dipanggil oleh teman-temannya. Gadis berusia 16 tahun dengan nama lengkap Marini Tri Adisti, merupakan anak ketiga dari pasangan Sapri dan Soli Rusnani. Orang tua Marini sehari-hari berprofesi sebagai petani. Keluarga sederhana ini tinggal di desa Baturusa kecamatan Merawang kabupaten Bangka provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Sudah menjadi kebiasaan bagi Marini, yang setiap pagi mengantarkan sang ibu pergi ke pasar untuk menjajakan hasil kebun berupa sayur mayur untuk dijual. Dari hasil penjualan sayur ini, orang tua Marini sudah berhasil menyekolahkan dua orang anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi. Kedua orang kakak Marini, kini sudah tidak lagi tinggal bersama di rumah orang tuanya. Mereka memilik hidup mandiri bersama keluarga kecil mereka.

Kemandirian sang kakak rupanya menjadi inspirasi bagi Marini yang kini duduk di bangku SMA, tepatnya kelas XI SMAN 1 Merawang kabupaten Bangka. Hal itu dibuktikannya dengan selalu menyabet berbagai prestasi di sekolah yang letaknya tak jauh dari kediamannya. Salah satunya dia menjadi peraih nilai terbesar pada saat kelulusan di SMP-nya dulu. Semasa lebih dari satu tahun menuntut ilmu di SMA, Marini selalu menjadi siswa dengan nilai terbaik.

Hasil ini tidak secara instan diraih oleh gadis dengan wajah manis tersebut. Meski disibukkan dengan kegiatan membantu orang tua di kebun, Marini tidak lupa dengan kewajibannya sebagai seorang pelajar. Di sela-sela aktifitasnya di kebun, dia selalu menyempatkan diri untuk membaca, mengulang pelajaran yang diperoleh melalui belajar daring (dalam jaringan), sampai mengerjakan tugas yang diberikan ibu/bapak gurunya.

Rupanya, pandemi Covid-19 yang sekarang terjadi tidak menghambat semangat Marini untuk terus menuntut ilmu. Beberapa pertemuan daring selalu diikutinya dengan seksama, tidak sekalipun dia absen mengikuti belajar online ini.

“Kadang belajar online di rumah, kadang di kebun. Pokonya, saya selalu ikut. Biasanya saya kasih alarm di handphone 15 sebelum mulai belajar online, jadi gak kelupaan,” ungkap Marini.

Hanya pada saat waktu liburan sekolah saja, Marini agak leluasa untuk bisa membantu orang tuanya terutama sang ibu Soli di pasar, dengan ikut menjual sayuran. Meski tak terlalu mengharap, sang ibu biasanya memberikan upah kepada puterinya itu, barang Rp50 ribu.

“Uang itu saya tabung, untuk kuliah nanti, juga untuk beli paket data. Saya pengen mandiri kayak kakak, gak mau menyusahkan ibu, bapak. Alhamdulillah, sudah lumayan terkumpul, nanti mau kuliah kayak kakak, makanya saya nabung terus ini,” ujar Marini sembari menunjukkan tabungannya yang dibuat dari bekas botol air mineral.

Selain prestasi akademik, Marini ternyata memiliki kesibukan lain juga. Dia aktif terlibat di organisasi kesiswaan untuk mengasah bakatnya menulis yang memang sudah menjadi hobinya sejak SMP. Beberapa lomba menulis tingkat lokal sampai nasional sudah dijajal oleh Marini. Hasil tulisannya diunggah di aplikasi wattpad miliknya sendiri. Biasanya dia akan membaca lagi karyanya tersebut, untuk mengetahui kalimat-kalimat yang rancu, agar lebih tertata dan sistematis lagi.

“Nak, kejarlah akhirat maka dunia akan mengikuti mu, dan jangan lupakan ibadah kapanpun dan dimanapun, karena Allah bersama orang-orang yang bertakwa”.

Pesan itu selalu terngiang ditelinga dan benak Marini. Pesan dari sang Ibu yang disampaikan pada suatu saat ketika melihat Marini yang terlalu disibukkan dengan kegiatannya menulis. Dari pesan itu, kini Marini sudah bisa mengatur waktu sendiri, kapan menulis, kapan belajar, kapan membantu di kebun, kapan bermain dengan teman-temannya.

Satu hal yang membuat orang tuanya bangga, adalah Marini ternyata juga pintar dalam berdagang.

“Kami juga gak tau ternyata puteri kami itu pintar berdagang. Pakai whatsapp, dia suka posting foto-foto baju, buku, apapun itu untuk dijual. Bukan berapa uang yang didapat, tapi kemauannya itu yang bikin kami sebagai orang tua senang, semogalah Marini puteri kami ini kelak jadi anak yang berhasil, aamiin,” ungkap sang ibu Soli dengan mata berkaca-kaca.

“Saya sih gak muluk-muluk, minimal pengen kayak kakak-kakak, bisa kuliah. Target saya di kampus negeri, biar biayanya gak besar. Pengennya kalo gak di Sastra ya di fakultas ekonomi,” tutur Marini.

Marini mengaku, saat ini dirinya sedikit kesulitan menerima pelajaran yang disampaikan oleh gurunya melalui belajar daring. Pasalnya, dia harus belajar dua kali, pertama mendengarkan penjelasan online, kedua mengulang kembali pelajaran itu dengan melihat dari buku-buku sambil mengulang memutar video yang sudah direkamnya sebelumnya.

“Ribet juga sih, tapi mau gimana lagi, semua siswa kayak saya memang belajarnya gitu (online). Intinya, jangan mengeluh, kalau orang bisa, saya juga pasti bisa,” ungkapnya.

Cita-cita Marini ini bukan hal yang absurd. Dengan semangat, disiplin dan kerja keras, serta tekad yang kuat akan mampu menghantarkan Marini meraih impiannya yang terinspirasi dari kedua kakaknya tersebut. Tentu saja harus disertai dengan doa. (M. Ghifan Rizqullah)

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments