SEKILAS INFO
: - Rabu, 27-10-2021
  • 4 tahun yang lalu / Kami Menyambut baik terbitnya Website SMAN 1 MERAWANG, dengan harapan dipublikasinya website ini dapat meningkatkan layanan pendidikan kepada siswa, orangtua, dan masyarakat pada umumnya. Dengan fasilitas ini Siswa dapat mengakses berbagai informasi pembelajaran dan informasi akademik. Sebaliknya orangtua juga dapat mengakses informasi tentang kegiatan akademik dan non akademik putra – puterinya di sekolah ini.
Secerca Asa di Tengah Keterbatasan
Diikat tali sehasa, peribahasa ini rasanya sangat pas untuk menggambarkan situasi sekarang. Hadirnya virus tak diundang membawa alur perubahan dalam kehidupan. Tak luput dari buntutnya, konstelasi pendidikan di Indonesia pun turut beralih, dari pendidikan tatap muka menjadi pendidikan dengan sistem pembelajaran daring.

Besok, rasanya akan menjadi hari bersejarah dalam kehidupanku. Hari dimulainya semangat baru dan harapan baru, saat sekolah mengumumkan pembelajaran tatap muka terbatas akan segera dimulai. Bintang seakan menyaksikan senyumku pada malam itu saat membaca pesan dari wali kelas. Keringat dingin mulai membasahi raga seiring ketikan jari membalas pesan whatsApp dari temanku, Danyi. Dia pun sepertinya merasakan hal yang sama denganku.

Malam semakin gelap, segelas susu hangat menemaniku sebelum tidur. Namun entah mengapa rasanya malam itu berbeda dari malam lainnya. Perasaan gusar dan tak sabar ingin cepat-cepat pagi menghantuiku, mengingat sekolah tatap muka akan segera dimulai.


Prosedur PTM Terbatas
Rabu, 14 Juli 2021, rintik hujan mengawali hari bersejarah ini, di tengah gerimis, tangan menengadah mengharapkan pembelajaran tatap muka terbatas ini akan berlangsung panjang. Mentari pun muncul dengan malu-malunya menandakan pagi mengawali hari dengan baik. Sejuk dan hangat terasa bersamaan. Di dalam tasku sudah kusiapkan surat persetujuan dari orang tuaku untuk melaksanakan PTM terbatas.

Kedatanganku di sambut dengan tembakan thermogun dari pak satpam yang berdiri tegak di gerbang SMA Negeri 1 Merawang. Hal ini harus dibiasakan, tak ada raut senyum yang terlihat dari wajah Pak Aziki. Dengan gesit, Pak Aziki mengecek suhu siswa satu persatu, kata-kata “lanjut” sang satpam terus bergulir dari bibirnya setelah suhu tertera di thermogun. Barisan antrian pun mengular, siswa berbaris dengan tetap menjaga jarak menunggu giliran di cek suhunya. Semua siswa wajib memakai masker demi memenuhi protokol kesehatan yang amat ketat.

Tak terbayang ternyata dampak dari pandemi ini sungguh luar biasa. Sekolah yang menjadi juara sekolah sehat dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan akan melaju ke tingkat nasional terkesan kumuh, dipenuhi daun-daunan berserakan. Sekolah sudah menyiapkan semua perlengkapan protokol kesehatan seperti hand sanitizer yang ditempel di setiap kelas, sabun cair di depan kelas dengan keran air yang mengalir.

Saat memasuki kelas, lantai kelas berdebu dan kotor. Dua orang teman perempuan menyapu lantai. Pembelajaran tatap muka terbatas ini membuat kelas yang semula berjumlah 34 siswa, dibagi menjadi dua shift sehingga tiap shift hanya diikuti oleh 17 orang siswa. Satu tahun tidak berjumpa dengan teman-teman, rasanya ada hal yang ganjil. Tapi PTM terbatas ini membuat sekolah memutuskan siswa dari kelas XI IPA 2 dulu tetap dengan teman-teman yang sama yang naik ke kelas XII IPA 2. Sehingga kami masih mengenali teman-teman meskipun dengan pertemuan terbatas.

Bel masuk berbunyi saat jam menunjukkan pukul 07.30 WIB, pelajaran pertama pada hari Rabu ini adalah pelajaran Kimia. Ibu Zurfika datang tepat waktu, sepertinya tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang terbilang sebentar selama PTM terbatas. Bayangkan saja, semula satu jam pelajaran dialokasikan selama 45 menit, saat ini dimampatkan hanya 20 menit. Sehingga 4 jam pelajaran Kimia hari ini disatukan dalam sekali pertemuan, 1 jam 20 menit.

Tidak terlalu banyak interaksi antara guru dan siswa selama pembelajaran berlangsung. Guru menjelaskan materi, memberikan tugas dan melakukan refleksi. Teringat bagaimana dulu, asyiknya kami berdiskusi dalam kelompok atau saat pelajaran kimia kami akan diajak Ibu Zurfika ke laboratorium. Mencampur berbagai bahan kimia sehingga menghasilkan suatu reaksi. Namun, selama PTM terbatas kami hanya dijelaskan jika ada yang kurang dipahami dalam pembelajaran.

Pelajaran berikutnya adalah PJOK, materi yang diajarkan Pak Akbar adalah tentang materi bola besar dalam PTM terbatas, beliau hanya mengajarkan teori saja, tak ada praktik yang menjadi andalan dalam pelajaran ini. Sungguh, rasanya ada sekat halimunan yang membatasi kami pada waktu itu, waktu terasa berjalan sangat lambat. Entah mengapa perasaan ini berbeda dengan yang dulu. Tak ada keleluasaan dalam bercengkrama bersama guru dan teman dalam PTM terbatas ini.

Kelas yang dulu rasanya penuh dengan canda riang, kini sepi tak bersuara. Tak ada waktu istirahat seperti dulu. Waktu istirahat inilah yang selalu ditunggu-tunggu setelah berjam-jam menerima pelajaran, kami biasanya akan menghabiskan waktu istirahat di kantin sekolah. Tapi kini, kantin tutup total. Bel pulang berbunyi pukul 10.50 WIB menandakan berakhirnya shift 1. Pergantian shift dilakukan seminggu sekali, jika pada minggu ini shift satu masuk pagi hari, maka minggu berikutnya shift 1 masuk pada waktu siang hari.

Shift 2 dimulai dari pukul 12.30 WIB sampai dengan pukul 15.00 WIB dengan materi pelajaran yang sama dengan yang diajarkan di shift 1. Aku sempat membayangkan bagaimana lelahnya guru-guru di sekolahku harus mengajar dua kali pada materi yang sama, dengan kelas yang sama namun siswa yang berbeda. Di tengah pandemi Covid-19, keadaan yang lelah dapat memicu berkurangnya imunitas seseorang. Namun ternyata para guru pun lebih senang jika belajar dilakukan secara tatap muka dibandingkan belajar secara daring.

Menurut Ibu Yersita, PTM terbatas menjadi solusi di tengah-tengah pandemi, “Tidak semua guru dan siswa siap belajar secara online atau dalam jaringan (daring). Kendala saat belajar secara online, banyak siswa yang tidak mengikuti pembelajaran karena berbagai hal seperti paket internet, sinyal, handphone, rasa malas dan sebagainya. PTM terbatas menjadi solusi bagi pembalajaran jarak jauh yang belum optimal selama ini,” ungkap guru matematika tersebut.

Ibu Yersita juga mengatakan jika PTM terbatas dengan durasi belajar yang singkat ternyata malah mengurangi kejenuhan siswa di sekolah, “Peserta didik sepertinya merasa lebih bahagia dan antusias ke sekolah untuk belajar meski dalam keadaan pandemi. Siswa yang biasanya tidak masuk saat pembelajaran secara online, malah rajin saat PTM terbatas,” seloroh Ibu Yersita.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Pak Dedi, menurut beliau pembelajaran online selama ini kurang maksimal. “Pembelajaran online kurang maksimal, respons dan antusias dalam pembelajaran sangat kurang, ini juga sebab dari kurangnya peralatan yang mendukung pembelajaran online dan tak meratanya akses internet di setiap daerah,” ungkap Pak Dedi sambil berharap semoga pandemi ini cepat berlalu dan dapat mengajar secara optimal seperti sediakala.

Matahari kini mulai naik dan memancarkan cakrawala yang terasa begitu panas. Aku berjalan pulang melangkah keluar dari gerbang SMAN 1 Merawang. Begitu cepat waktu berlalu, namun rasa optimis selalu membayangiku jika kita semua mampu mengatasi situasi seperti ini. Masih ada asa walau dalam keterbatasan sekalipun.

Tak kusangka ternyata pandemi ini memberikan banyak pelajaran untukku mengembangkan bakat dan hobi menjadi lebih optimal begitu juga dalam pemanfaatan teknologi. Digitalisasi pendidikan dan penguatan karakter merupakan ikhtiar kita yang harus dikembangkan dalam mendukung program merdeka belajar. Pandemi memberi pelajaran kepada kita bahwa digitalisasi pendidikan amat penting saat ini. Di sisi lain, penguatan karakter juga menjadi prioritas utama dalam program ini dan pembelajaran tatap muka salah satu jalannya. Waktu terasa berputar begitu cepat dan setiap detik mempunyai kenangan tersendiri.

Pembelajaran tatap muka terbatas ini menjadi pengalaman penting yang kelak akan dikisahkan ke anak cucu. Walaupun pembelajaran tatap muka terbatas ini tidak dapat dijalankan secara konsisten karena virus terus bermutasi, hari ini diadakan PTM terbatas, besok sekolah diliburkan kembali karena kasus Covid-19 memuncak. Namun, pengalaman ini sangat berharga. Seperti judul buku R.A Kartini, Habis Gelap terbitlah Terang, sangat sesuai menggambarkan kondisi ini. (Akbarullah Yusman)

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments