<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Feature Arsip - SMA Negeri 1 Merawang</title>
	<atom:link href="https://www.sman1merawang.sch.id/category/feature/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.sman1merawang.sch.id/category/feature/</link>
	<description>Unggul Berprestasi Taat Beribadah Santun Berprilaku</description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Aug 2021 04:19:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://www.sman1merawang.sch.id/wp-content/uploads/2020/04/cropped-smanser-logo-32x32.png</url>
	<title>Feature Arsip - SMA Negeri 1 Merawang</title>
	<link>https://www.sman1merawang.sch.id/category/feature/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Geliat Kerajinan Tudung Saji di Tengah Pandemi</title>
		<link>https://www.sman1merawang.sch.id/geliat-kerajinan-tudung-saji-di-tengah-pandemi/</link>
					<comments>https://www.sman1merawang.sch.id/geliat-kerajinan-tudung-saji-di-tengah-pandemi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nadini Pratiwi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Aug 2021 04:15:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[Feature 2021]]></category>
		<category><![CDATA[Kerajinan Tudung Saji]]></category>
		<category><![CDATA[SMANSER]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.sman1merawang.sch.id/?p=1175</guid>

					<description><![CDATA[<p>(Sumber: Pribadi) Jawaharlal Nehru mengatakan bahwa budaya akan memperluas pikiran dan semangat kita. Hal ini berlaku pada diri Ibu Rusina, semangat membuat kerajinan tudung saji tidak pernah padam demi melestarikan budaya di daerahnya. Ibu Rusina, perempuan yang berumur 40 tahun kelahiran Kota Pangkalpinang merupakan seorang pembuat kerajinan tudung saji. Jari-jemarinya yang lentik dengan cekatan membuat kerajinan tudung saji sedangkan matanya fokus pada saat menjahit daun-daun yang sudah di potong sesuai ukuran. Bersama ketiga pegawai yang masih bekerja di usaha kerajinan tudung sajinya, mereka mulai bekerja dari pukul 10.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB. Selama pandemi, kegiatan membuat tudung saji tersebut hanya dilakukan sebanyak tiga kali dalam seminggu di sebuah ruangan yang berukuran 2,5 meter × 6 meter. Namun, tak jarang mereka membuat tudung saji di teras rumah Ibu Rusina. Ibu Rusina memulai usaha pembuatan kerajinan tudung saji pada tahun 2018. Bermodalkan uang sebesar Rp3.000.000,-, ia membangun ruangan dan membeli bahan-bahan pembuatan tudung saji. Usaha kerajinan tudung saji Ibu Rusina terdapat di Kelurahan Plaben, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Dari usaha kerajinan tudung sajinya, pertama kali Ibu Rusina mendapatkan keuntungan sebesar Rp4.000.000,-. Melestarikan Tradisi Tudung saji bermanfaat sebagai penutup makanan yang seringkali digunakan pada acara adat istiadat nganggung. [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://www.sman1merawang.sch.id/geliat-kerajinan-tudung-saji-di-tengah-pandemi/">Geliat Kerajinan Tudung Saji di Tengah Pandemi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.sman1merawang.sch.id">SMA Negeri 1 Merawang</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>(Sumber: Pribadi)</b></p>
<div style="text-align: justify;">Jawaharlal Nehru mengatakan bahwa budaya akan memperluas pikiran dan semangat kita. Hal ini berlaku pada diri Ibu Rusina, semangat membuat kerajinan tudung saji tidak pernah padam demi melestarikan budaya di daerahnya.</p>
<p>Ibu Rusina, perempuan yang berumur 40 tahun kelahiran Kota Pangkalpinang merupakan seorang pembuat kerajinan tudung saji. Jari-jemarinya yang lentik dengan cekatan membuat kerajinan tudung saji sedangkan matanya fokus pada saat menjahit daun-daun yang sudah di potong sesuai ukuran. Bersama ketiga pegawai yang masih bekerja di usaha kerajinan tudung sajinya, mereka mulai bekerja dari pukul 10.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB. Selama pandemi, kegiatan membuat tudung saji tersebut hanya dilakukan sebanyak tiga kali dalam seminggu di sebuah ruangan yang berukuran 2,5 meter × 6 meter. Namun, tak jarang mereka membuat tudung saji di teras rumah Ibu Rusina.</p>
<p>Ibu Rusina memulai usaha pembuatan kerajinan tudung saji pada tahun 2018. Bermodalkan uang sebesar Rp3.000.000,-, ia membangun ruangan dan membeli bahan-bahan pembuatan tudung saji. Usaha kerajinan tudung saji Ibu Rusina terdapat di Kelurahan Plaben, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Dari usaha kerajinan tudung sajinya, pertama kali Ibu Rusina mendapatkan keuntungan sebesar Rp4.000.000,-.</p>
<p></br><strong>Melestarikan Tradisi</strong><br />
Tudung saji bermanfaat sebagai penutup makanan yang seringkali digunakan pada acara adat istiadat nganggung. Tradisi nganggung berlangsung merata di setiap kabupaten atau kotamadya di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Tetapi bagi masyarakat Kabupaten Bangka, nganggung dikenal juga dengan istilah Sepintu Sedulang (satu pintu satu dulang), maksudnya setiap rumah (keluarga) membawa satu dulang untuk kegiatan nganggung tersebut. Tradisi ini merupakan warisan nenek moyang yang mencerminkan suatu kehidupan sosial masyarakat berdasarkan gotong-royong. Di mana setiap bubung rumah (keluarga) melakukan kegiatan tersebut untuk dibawa ke masjid, surau atau tempat berkumpulnya warga kampung.</p>
<p>Dalam acara nganggung, setiap kepala keluarga membawa dulang yaitu sejenis nampan bulat sebesar tampah yang terbuat dari aluminium, seng dan ada juga yang terbuat dari kuningan. Untuk yang terakhir ini sekarang sudah agak langka, tapi sebagian masyarakat Bangka masih mempunyai dulang kuningan ini.</p>
<p>Di dalam dulang tersebut tertata aneka jenis makanan sesuai dengan kesepakatan apa yang harus dibawa, namun bisa juga berdasarkan kemampuan keluarga tersebut. Kalau nganggung kue, yang dibawa kue; nganggung nasi, isi dulang nasi dan lauk pauk, bisa juga nganggung buah-buahan, nganggung ketupat biasanya pada saat lebaran.</p>
<p>Dulang ini ditutup dengan tudung saji. Cara membawa dulang tersebut adalah dengan meletakkannya di atas telapak tangan dan mengangkatnya setinggi bahu. Ada pula dengan cara menjunjung di atas kepala. Kemudian dulang tersebut dibawa ke masjid, atau tempat acara yang sudah ditetapkan, untuk dihidangkan dan dinikmati bersama.</p>
<p>Adapun nganggung merupakan suatu kegiatan yang dilakukan masyarakat dalam rangka memperingati hari besar agama Islam, menyambut tamu kehormatan, acara selamatan orang meninggal, acara pernikahan atau acara apapun yang melibatkan orang banyak.</p>
<p>Olehkarena bermanfaatnya tudung saji dalam tradisi nganggung, Ibu Rusina terus bertahan membuat kerajinan tudung saji, “Motivasi saya membuat kerajinan tudung saji adalah untuk melestarikan budaya. Saya ingin menginspirasi anak-anak muda betapa pentingnya mengembangkan kemampuan dalam pembuatan kerajinan tudung saji,” ungkap Ibu Rusina.</p>
<p>Meskipun selama pandemi Covid-19 tradisi nganggung ditiadakan agar tidak meluasnya penyebaran virus Covid-19 dan membuat Bangka Belitung keluar dari zona merah, Ibu Rusina tetap bertahan membuat kerajinan tudung sajinya, “Iya, pesanan tudung saji menurun drastis sejak pandemi. Tapi alhamdulillah masih ada juga yang membeli tudung saji,” seloroh Rusina sambil tersenyum.</p>
<p></br><strong>Pendapatan menurun</strong><br />
Tudung saji terbuat dari bahan dasar daun Mengkuang, sejenis tumbuhan dari keluarga Pandanaceae yaitu sama dengan keluarga tanaman pandan. Untuk membuat tudung saji, daun-daun Mengkuang dibersihkan kemudian dikeringkan. Setelah kering dan berwarna kecokelatan, daun diukur sesuai dengan ukuran lalu digunting. Daun-daun tersebut kemudian dijahit sesuai dengan polanya. Ketika tudung saji selesai di jahit, langkah selanjutnya kita akan menjahit lingkar tudung memakai batang kabung yang sudah di ukur. Lalu tudung saji itu dicat warna-warni. Biasanya cat tudung saji didominasi warna merah, dengan bentuk lingkaran di atasnya. Bentuk lingkaran tersebut dicat warna kuning, hijau dan merah dan setelah di cat tudung saji tersebut dijemur sampai catnya kering.</p>
<p><em>“Semenjak pandemi Covid-19 melanda Indonesia dan Kepulauan Bangka Belitung pada Senin, 16 Maret 2020, penghasilan dari kerajinan tudung saji menjadi tidak menentu,”</em> ungkap Ibu Rusina sambil membuat kerajinan tudung sajinya.</p>
<p><em>“Sebelum adanya corona, penghasilan dari pembuatan kerajinan tudung saji berkisar antara Rp4.000.000,- sampai dengan Rp4.500.000,- perbulan,”</em> lanjut perempuan yang bermata sipit, berkulit putih dan berhidung mancung tersebut.</p>
<p>Meskipun penghasilan yang ia dapatkan dari membuat kerajinan tudung saji tidak terlalu banyak. Namun Ibu Rusina mampu menggaji 7 orang karyawan sebesar Rp400.000,- sampai dengan Rp450.000,- untuk satu orang karyawan setiap bulannya.</p>
<p>Bagi Ibu Rusina, tidak apa-apa mendapatkan keuntungan yang sedikit, asalkan dapat membantu banyak orang, <em>“Gaji seperti itu tidak merugikan saya. Malah kadang-kadang saya banyak mendapatkan untung.”</em></p>
<p>Perempuan itu hanya sedih, harus merumahkan beberapa karyawannya karena sejak pandemi pesanan tudung saji tidak seramai dulu. <em>“Sebelum ada pandemi Covid-19, yang bekerja disini ada 7 orang. Setelah adanya Covid-19 masih tersisa 3 orang. Pegawai yang masih bertahan bekerja disini ya teman dekat ibu sendiri,”</em> tutur Ibu Rusina.</p>
<p>Ibu Rusina mengatakan jika kini mereka hanya memproduksi sekitar 15 sampai 20 tudung saji berdiameter 45 cm setiap bulannya. Satu tudung saji dijual dengan harga Rp80.000,-. Perempuan itu memasarkan kerajinan tudung sajinya melalui status whatsApp dan baru membuat kerajinan tudung saji jika ada yang memesan. Di tengah kesulitan yang mendera usaha kerajinan tudung sajinya, tak sedikitpun ada keinginan dalam diri Ibu Rusina untuk menutup usahanya.</p>
<p><em>“Jika kami tidak membuat kerajinan tudung saji maka siapa yang akan meneruskan pembuatan kerajinan tudung saji ini,”</em> ujar Ibu Rusina khawatir. Ia terus bertahan membuat kerajinan tudung saji demi melestarikan tradisi meskipun harus tertatih-tatih.</p>
<p>Selama pandemi, usaha kerajinan tudung saji milik Ibu Rusina mendapatkan bantuan dari UMKM seperti gunting, las, kompresor, pisau, cater, alat tenun, benang, jarum, lem, cat, tiner, kuas dan lain-lainnya.</p>
<p><em>“Saya juga mendapatkan bantuan dari satgas Covid-19 berupa alat bahan-bahan pangan,”</em> ungkapnya penuh rasa syukur.</p>
<p>Ibu Rusina berharap pandemi Covid-19 segera berakhir sehingga semua orang bisa beraktivitas seperti dulu lagi dan kerajinan tudung sajinya terus bertahan. Perempuan itu juga mengatakan jika ada yang ingin mempelajari kerajinan tudung saji, ia dengan senang hati mengajar dan membimbingnya. <em>“Ilmu yang saya dapatkan dari PKK Baturusa itu akan saya teruskan kepada siapa saja yang ingin melestarikan kerajinan tudung saji,”</em> ungkap perempuan itu bersemangat.</p>
<p>Ibu Rusina telah menunjukkan bahwa selama pandemi Covid-19 bukanlah akhir dari segalanya. Ia mengatakan tidak putus asa dengan kondisi penghasilan yang tidak menentu dan berkurangnya pegawai yang bekerja di usaha kerajinan tudung sajinya. Walaupun dengan kondisi pandemi Covid-19 Ibu Rusina tetap semangat dalam membuat kerajinan tudung saji demi melestarikan kebudayaan Kepulauan Bangka Belitung. (<strong>Nadini Pratiwi</strong>)</p>
</div>
<p>Artikel <a href="https://www.sman1merawang.sch.id/geliat-kerajinan-tudung-saji-di-tengah-pandemi/">Geliat Kerajinan Tudung Saji di Tengah Pandemi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.sman1merawang.sch.id">SMA Negeri 1 Merawang</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.sman1merawang.sch.id/geliat-kerajinan-tudung-saji-di-tengah-pandemi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Terinsipirasi dari Sang kakak, Anak Petani ini Juga Ingin Kuliah</title>
		<link>https://www.sman1merawang.sch.id/terinsipirasi-dari-sang-kakak-anak-petani-ini-juga-ingin-kuliah/</link>
					<comments>https://www.sman1merawang.sch.id/terinsipirasi-dari-sang-kakak-anak-petani-ini-juga-ingin-kuliah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[M. Ghifan Rizqullah]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 31 Aug 2020 03:15:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.sman1merawang.sch.id/?p=1050</guid>

					<description><![CDATA[<p>Marini, begitu dia biasa dipanggil oleh teman-temannya. Gadis berusia 16 tahun dengan nama lengkap Marini Tri Adisti, merupakan anak ketiga dari pasangan Sapri dan Soli Rusnani. Orang tua Marini sehari-hari berprofesi sebagai petani. Keluarga sederhana ini tinggal di desa Baturusa kecamatan Merawang kabupaten Bangka provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sudah menjadi kebiasaan bagi Marini, yang setiap pagi mengantarkan sang ibu pergi ke pasar untuk menjajakan hasil kebun berupa sayur mayur untuk dijual. Dari hasil penjualan sayur ini, orang tua Marini sudah berhasil menyekolahkan dua orang anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi. Kedua orang kakak Marini, kini sudah tidak lagi tinggal bersama di rumah orang tuanya. Mereka memilik hidup mandiri bersama keluarga kecil mereka. Kemandirian sang kakak rupanya menjadi inspirasi bagi Marini yang kini duduk di bangku SMA, tepatnya kelas XI SMAN 1 Merawang kabupaten Bangka. Hal itu dibuktikannya dengan selalu menyabet berbagai prestasi di sekolah yang letaknya tak jauh dari kediamannya. Salah satunya dia menjadi peraih nilai terbesar pada saat kelulusan di SMP-nya dulu. Semasa lebih dari satu tahun menuntut ilmu di SMA, Marini selalu menjadi siswa dengan nilai terbaik. Hasil ini tidak secara instan diraih oleh gadis dengan wajah manis tersebut. Meski disibukkan dengan kegiatan membantu orang tua di kebun, [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://www.sman1merawang.sch.id/terinsipirasi-dari-sang-kakak-anak-petani-ini-juga-ingin-kuliah/">Terinsipirasi dari Sang kakak, Anak Petani ini Juga Ingin Kuliah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.sman1merawang.sch.id">SMA Negeri 1 Merawang</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify;">Marini, begitu dia biasa dipanggil oleh teman-temannya. Gadis berusia 16 tahun dengan nama lengkap Marini Tri Adisti, merupakan anak ketiga dari pasangan Sapri dan Soli Rusnani. Orang tua Marini sehari-hari berprofesi sebagai petani. Keluarga sederhana ini tinggal di desa Baturusa kecamatan Merawang kabupaten Bangka provinsi Kepulauan Bangka Belitung. </p>
<p>Sudah menjadi kebiasaan bagi Marini, yang setiap pagi mengantarkan sang ibu pergi ke pasar untuk menjajakan hasil kebun berupa sayur mayur untuk dijual. Dari hasil penjualan sayur ini, orang tua Marini sudah berhasil menyekolahkan dua orang anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi. Kedua orang kakak Marini, kini sudah tidak lagi tinggal bersama di rumah orang tuanya. Mereka memilik hidup mandiri bersama keluarga kecil mereka. </p>
<p>Kemandirian sang kakak rupanya menjadi inspirasi bagi Marini yang kini duduk di bangku SMA, tepatnya kelas XI SMAN 1 Merawang kabupaten Bangka. Hal itu dibuktikannya dengan selalu menyabet berbagai prestasi di sekolah yang letaknya tak jauh dari kediamannya. Salah satunya dia menjadi peraih nilai terbesar pada saat kelulusan di SMP-nya dulu. Semasa lebih dari satu tahun menuntut ilmu di SMA, Marini selalu menjadi siswa dengan nilai terbaik. </p>
<p>Hasil ini tidak secara instan diraih oleh gadis dengan wajah manis tersebut. Meski disibukkan dengan kegiatan membantu orang tua di kebun, Marini tidak lupa dengan kewajibannya sebagai seorang pelajar. Di sela-sela aktifitasnya di kebun, dia selalu menyempatkan diri untuk membaca, mengulang pelajaran yang diperoleh melalui belajar daring (dalam jaringan), sampai mengerjakan tugas yang diberikan ibu/bapak gurunya.</p>
<p>Rupanya, pandemi Covid-19 yang sekarang terjadi tidak menghambat semangat Marini untuk terus menuntut ilmu. Beberapa pertemuan daring selalu diikutinya dengan seksama, tidak sekalipun dia absen mengikuti belajar online ini.</p>
<p>“Kadang belajar online di rumah, kadang di kebun. Pokonya, saya selalu ikut. Biasanya saya kasih alarm di handphone 15 sebelum mulai belajar online, jadi gak kelupaan,” ungkap Marini.</p>
<p>Hanya pada saat waktu liburan sekolah saja, Marini agak leluasa untuk bisa membantu orang tuanya terutama sang ibu Soli di pasar, dengan ikut menjual sayuran. Meski tak terlalu mengharap, sang ibu biasanya memberikan upah kepada puterinya itu, barang Rp50 ribu. </p>
<p>“Uang itu saya tabung, untuk kuliah nanti, juga untuk beli paket data. Saya pengen mandiri kayak kakak, gak mau menyusahkan ibu, bapak. Alhamdulillah, sudah lumayan terkumpul, nanti mau kuliah kayak kakak, makanya saya nabung terus ini,” ujar Marini sembari menunjukkan tabungannya yang dibuat dari bekas botol air mineral.</p>
<p>Selain prestasi akademik, Marini ternyata memiliki kesibukan lain juga. Dia aktif terlibat di organisasi kesiswaan untuk mengasah bakatnya menulis yang memang sudah menjadi hobinya sejak SMP. Beberapa lomba menulis tingkat lokal sampai nasional sudah dijajal oleh Marini. Hasil tulisannya diunggah di aplikasi wattpad miliknya sendiri. Biasanya dia akan membaca lagi karyanya tersebut, untuk mengetahui kalimat-kalimat yang rancu, agar lebih tertata dan sistematis lagi.</p>
<p>“Nak, kejarlah akhirat maka dunia akan mengikuti mu, dan jangan lupakan ibadah kapanpun dan dimanapun, karena Allah bersama orang-orang yang bertakwa”.</p>
<p>Pesan itu selalu terngiang ditelinga dan benak Marini. Pesan dari sang Ibu yang disampaikan pada suatu saat ketika melihat Marini yang terlalu disibukkan dengan kegiatannya menulis. Dari pesan itu, kini Marini sudah bisa mengatur waktu sendiri, kapan menulis, kapan belajar, kapan membantu di kebun, kapan bermain dengan teman-temannya.</p>
<p>Satu hal yang membuat orang tuanya bangga, adalah Marini ternyata juga pintar dalam berdagang.</p>
<p>“Kami juga gak tau ternyata puteri kami itu pintar berdagang. Pakai whatsapp, dia suka posting foto-foto baju, buku, apapun itu untuk dijual. Bukan berapa uang yang didapat, tapi kemauannya itu yang bikin kami sebagai orang tua senang, semogalah Marini puteri kami ini kelak jadi anak yang berhasil, aamiin,” ungkap sang ibu Soli dengan mata berkaca-kaca.</p>
<p>“Saya sih gak muluk-muluk, minimal pengen kayak kakak-kakak, bisa kuliah. Target saya di kampus negeri, biar biayanya gak besar. Pengennya kalo gak di Sastra ya di fakultas ekonomi,” tutur Marini.</p>
<p>Marini mengaku, saat ini dirinya sedikit kesulitan menerima pelajaran yang disampaikan oleh gurunya melalui belajar daring. Pasalnya, dia harus belajar dua kali, pertama mendengarkan penjelasan online, kedua mengulang kembali pelajaran itu dengan melihat dari buku-buku sambil mengulang memutar video yang sudah direkamnya sebelumnya.</p>
<p>“Ribet juga sih, tapi mau gimana lagi, semua siswa kayak saya memang belajarnya gitu (online). Intinya, jangan mengeluh, kalau orang bisa, saya juga pasti bisa,” ungkapnya.</p>
<p>Cita-cita Marini ini bukan hal yang absurd. Dengan semangat, disiplin dan kerja keras, serta tekad yang kuat akan mampu menghantarkan Marini meraih impiannya yang terinspirasi dari kedua kakaknya tersebut. Tentu saja harus disertai dengan doa. (<strong>M. Ghifan Rizqullah</strong>)</div>
<p>Artikel <a href="https://www.sman1merawang.sch.id/terinsipirasi-dari-sang-kakak-anak-petani-ini-juga-ingin-kuliah/">Terinsipirasi dari Sang kakak, Anak Petani ini Juga Ingin Kuliah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.sman1merawang.sch.id">SMA Negeri 1 Merawang</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.sman1merawang.sch.id/terinsipirasi-dari-sang-kakak-anak-petani-ini-juga-ingin-kuliah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tak Mampu Beli HP, Rafika Harus Menumpang Demi Bisa Belajar Online</title>
		<link>https://www.sman1merawang.sch.id/tak-mampu-beli-hp-rafika-harus-menumpang-demi-bisa-belajar-online/</link>
					<comments>https://www.sman1merawang.sch.id/tak-mampu-beli-hp-rafika-harus-menumpang-demi-bisa-belajar-online/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Marini Tri Adisti]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2020 14:52:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Daring]]></category>
		<category><![CDATA[Covid-19]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.sman1merawang.sch.id/?p=1043</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mengenakan pakaian bergambar karakter LOL berwarna pink, seorang bocah perempuan tampak serius membaca buku dari ruang tengah rumahnya. Terbata-bata ia mengeja huruf demi huruf agar bisa dirangkai menjadi satu kalimat utuh. Rumah semi permanen berlantai tanah seakan menjadi saksi bisu perjuangan sang bocah menuntut ilmu. Tidak ada hiasan yang menempel di dinding papan rumah, hanya satu foto usang pernikahan kedua orang tua yang menempel, entah kapan dipasang tepat diatas kursi kayu rumah keluarga kecil ini. Rafika, nama bocah berusia 6 tahun itu, putri dari pasangan Armin dan Rosiana. Kedua orang tuanya hanya tamatan SD. Ayahnya bekerja sebagai buruh tani dibantu sang ibu yang merangkap sebagai ibu rumah tangga sekaligus guru bagi Rafika. Dengan seksama Rafika memperhatikan sang ibu Rosiana mengajarinya memperkenalkan huruf dan melafalkannya dengan tepat. Pandemi Covid-19, membuat puluhan juta anak di Indonesia terpaksa harus bersekolah dari rumah dengan sistem daring (dalam jaringan). Peralatan seperti handphone merupakan barang wajib agar bisa mengikuti pelajaran daring dengan baik. Sayang, hal itu tidak terjadi pada Rafika. Jangankan memiliki handphone, melihat barang mewah menurut keluarga ini saja semenjak belajar daring dilakukan. “Ayahnya dulu sempat punya handphone, tapi rusak. Wajarlah, handphone jadul. Habis itu, buat beli pulsa gak bisa, mending buat makan,” ungkap sang [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://www.sman1merawang.sch.id/tak-mampu-beli-hp-rafika-harus-menumpang-demi-bisa-belajar-online/">Tak Mampu Beli HP, Rafika Harus Menumpang Demi Bisa Belajar Online</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.sman1merawang.sch.id">SMA Negeri 1 Merawang</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify;">Mengenakan pakaian bergambar karakter LOL berwarna pink, seorang bocah perempuan tampak serius membaca buku dari ruang tengah rumahnya. Terbata-bata ia mengeja huruf demi huruf agar bisa dirangkai menjadi satu kalimat utuh. Rumah semi permanen berlantai tanah seakan menjadi saksi bisu perjuangan sang bocah menuntut ilmu. Tidak ada hiasan yang menempel di dinding papan rumah, hanya satu foto usang pernikahan kedua orang tua yang menempel, entah kapan dipasang tepat diatas kursi kayu rumah keluarga kecil ini. Rafika, nama bocah berusia 6 tahun itu, putri dari pasangan Armin dan Rosiana. Kedua orang tuanya hanya tamatan SD. Ayahnya bekerja sebagai buruh tani dibantu sang ibu yang merangkap sebagai ibu rumah tangga sekaligus guru bagi Rafika. Dengan seksama Rafika memperhatikan sang ibu Rosiana mengajarinya memperkenalkan huruf dan melafalkannya dengan tepat. </p>
<p>Pandemi Covid-19, membuat puluhan juta anak di Indonesia terpaksa harus bersekolah dari rumah dengan sistem daring (dalam jaringan). Peralatan seperti handphone merupakan barang wajib agar bisa mengikuti pelajaran daring dengan baik. Sayang, hal itu tidak terjadi pada Rafika. Jangankan memiliki handphone, melihat barang mewah menurut keluarga ini saja semenjak belajar daring dilakukan.</p>
<p>“Ayahnya dulu sempat punya handphone, tapi rusak. Wajarlah, handphone jadul. Habis itu, buat beli pulsa gak bisa, mending buat makan,” ungkap sang ibu Rosiana.</p>
<p>Setelah belajar membaca yang dibimbing sang ibu, Rafika beranjak dari duduknya kemudian mengambil tas punggung kesayangannya bergambar putri salju pemberian sang ayah sebagai kado saat Rafika berusia 5 tahun. Rafika kemudian bergegas ke rumah temannya bernama Pipit.</p>
<p>Waktu baru menunjukkan pukul 06.50 WIB, usai berpamitan dengan sang ibu, kaki mungil Rafika berjalan menyusuri jalanan berdebu menuju rumah Pipit sahabatnya yang berjarak sekitar 500 meter. Sekitar pukul 07.00 WIB dia sampai ke rumah Pipit, dan biasanya dia baru kembali pulang ke rumah pukul 09.30 WIB. Ada rasa sedih di dalam dada sang ibu ketika melepas buah hatinya untuk belajar ke rumah tetangga.</p>
<p>“Aku tidak apa-apa harus jalan kaki ke rumah Pipit, yang penting aku bisa mengikuti pembelajaran secara online,“ ungkap Rafika.</p>
<p>Hidup dalam keterbatasan serta tidak mempunyai handphone, tidak menyurutkan semangat Rafika. Dia tetap berusaha dan bersemangat agar tidak ketinggalan sedikit pun kegiatan pembelajaran daring. Keterbatasan ekonomi ditambah harga handphone yang selangit membuat orang tua Rafika tidak bisa membelikan handphone bagi Rafika. Harapan bisa mengikuti pembelajaran secara daring dari rumah sendiri seperti kebanyakan anak-anak pada umumnya menjadi pupus. </p>
<p>Di rumah sahabatnya Pipit, Rafika tak mau menyia-nyiakan waktu, dia langsung mengeluarkan buku dan peralatan tulis dari tasnya. Sembari menunggu sahabatnya Pipit selesai belajar daring, Rafika mengulang kembali pelajaran membaca yang didapatinya di rumah. Pipit selesai belajar daring, kini giliran Rafika memakai handphone milik ayah Pipit untuk belajar online yang dibimbing sang guru dari jauh. Suatu ketika, Rafika tidak datang ke rumah Pipit untuk mengerjakan tugas dikarenakan beberapa halangan. Padahal orang tua Pipit dan orang tua Rafika sudah saling mengenal, mereka juga memiliki hubungan pertemanan, sehingga orang tua Pipit tidak merasa keberatan jika Rafika datang ke rumah Pipit setiap hari untuk belajar bersama. Terkadang ada perasaan malu dari orang tua Rafika, ketika melihat anaknya yang sering menumpang belajar di rumah Pipit. Namun, apa mau dikata, keterbatasan yang ada tidak mampu bagi orang tuanya berbuat banyak.</p>
<p>“Anaknya rajin dan sopan. Dulu pernah gak datang kesini, saya tanya ke ibunya. Katanya malu sering numpang belajar kesini. Saya bilang, gak apa-apa, saya senang, anak saya Pipit ada teman,” ungkap orang tua Pipit.</p>
<p>Rafika kini duduk di kelas 1 SDN 2 Merawang. Dirinya melakoni pergi-pulang ke rumah Pipit nyaris setiap hari, tak ada keluh kesah keluar dari mulut Rafika. Rafika dan orangtuanya tinggal di sebuah rumah kecil yang terletak di jalan Jering, Desa Baturusa, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kondisi rumah keluarga Rafika sangat sederhana dan terbilang kurang layak untuk ditinggali. Mereka bertiga harus tinggal di rumah berukuran 6&#215;6 meter dengan lantai dapur yang masih beralaskan tanah, serta jendela yang hanya ditutupi oleh tirai kain. Mirisnya, rumah yang  menjadi tempat berteduh dan tempat Rafika menghabiskan masa kecilnya ini tidak mempunyai WC serta jamban.</p>
<p>Keluarga Rafika sering kesusahan ketika ingin buang air besar apalagi disaat malam hari atau tengah malam. Ditambah pasokan air bersih ke rumah mereka tidak lancar, hanya mengharapkan dari kebaikan para tetangga yang iba dan mau memberikan air bersih. Itupun hanya cukup dipakai untuk keperluan memasak. Tak jarang, keluarga kecil ini terpaksa harus mandi di kebun tempat sang ayah bekerja mengambil upah sebagai buruh tani.</p>
<p>Selain belajar secara daring (dalam jaringan), guru Rafika juga memberikan tugas melalui buku (luar jaringan), sehingga Rafika harus datang ke sekolah untuk mengambil tugas tersebut agar bisa dikerjakan. Rafika tidak sendiri, dia diantar oleh bapaknya ke sekolah menggunakan sepeda motor tua. Sesekali sang ibu mengantarkan Rafika ke sekolah dengan berjalan kaki, karena motor dipakai sang ayah mencari kepiting atau saat motor tiba-tiba mogok. Ibu dan anak ini harus menempuh jalan sekitar satu kilometer ke sekolah dari rumah. Rafika bersama ibu sangat menikmati perjalanan ke sekolah, terkadang juga dia merasa lelah karena harus berjalan kaki cukup jauh. Sang ibu biasanya menggendong puteri kesayangannya itu, untuk sekedar menghibur dan memberi semangat. </p>
<p>Di sela-sela kegiatannya belajar online, pada siang hari Rafika biasanya pergi ke kebun bersama orang tuanya. Di kebun, dia membantu ibunya mencabut rumput, kadang juga bermain-main di areal kebun yang sudah menjadi mata pencaharian satu-satunya bagi orang tua Rafika. Kebun itu memang bukan milik orang tua Rafika, mereka hanya menjadi buruh upah merawat tanaman kebun seperti keladi, kencur dan pepaya. Dia dan orang tuanya baru kembali pulang ke rumah ketika matahari hampir terbenam. Sebelumnya, Rafika biasanya sudah mandi di sumur kebun yang biasa digunakan untuk menyiram tanaman.</p>
<p>Selepas maghrib, Rafika menyempatkan diri untuk berlatih membaca dan menulis, diajari oleh ibunya. Dia  sudah mulai bisa membaca huruf sedikit demi sedikit secara perlahan. Rafika sangat suka sekali dengan pelajaran muatan lokal. </p>
<p>“Aku suka Mulok, karena menggambar macma-macam. Menggambar itu menyenangkan dan mudah. Pelajaran yang aku gak begitu suka Matematika,” seloroh Rafika.</p>
<p>Bagi Rafika, pendidikan adalah jalan satu-satunya untuk dia bisa menggapai cita-cita sebagai seorang dokter. Orang tua Rafika selalu menanamkan sikap disiplin dan semangat kepada anaknya tersebut.</p>
<p>“Kamu harus rajin belajar, agar kelak kamu bisa menaikkan derajat orang tuamu ini,“ pesan ibu Rafika kepada anaknya itu.</p>
<p>Orang tua Rafika menuturkan, bahwa penghasilan mereka hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.</p>
<p>&#8220;Penghasilan ayah Rafika tidak menentu, kadang bisa sekitar 40 ribu, kadang 50 ribu perhari, kadang juga tidak satu persen pun. Kadang sedih melihat anak kami ini harus menumpang belajar online. Tapi mau gimana lagi, kami tidak mampu membeli handphone,&#8221; ungkap sang ibu dengan mata berkaca-kaca.</p>
<p>Rafika dan keluarganya memang hidup dalam kondisi serba kekurangan. Namun, orang tuanya selalu mengajarkan kepada anaknya untuk selalu bersyukur dengan apa yang mereka miliki dan mereka dapatkan. Walau mungkin terkadang mereka pernah merasa sedih atau lelah dengan kondisi yang mereka alami saat  ini. Orang tua Rafika mempunyai harapan agar kondisi ekonomi mereka dapat lebih baik lagi dikemudian hari, sehingga mereka bisa membeli handphone untuk Rafika, dan juga berharap pandemi Covid-19 ini cepat berlalu, agar Rafika bisa kembali bersekolah. (<strong>Marini Tri Adisti</strong>)</div>
<p>Artikel <a href="https://www.sman1merawang.sch.id/tak-mampu-beli-hp-rafika-harus-menumpang-demi-bisa-belajar-online/">Tak Mampu Beli HP, Rafika Harus Menumpang Demi Bisa Belajar Online</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.sman1merawang.sch.id">SMA Negeri 1 Merawang</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.sman1merawang.sch.id/tak-mampu-beli-hp-rafika-harus-menumpang-demi-bisa-belajar-online/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
